Rabu, 14 Desember 2011

The girl and her photograph II

“Oke, fine! Kalo emang itu yang kamu mau, aku ngertiin kamu! Aku udah ga bisa kaya gini terus, aku udah ga bisa menolerir lagi semua kesibukan kamu! Aku nyerah.” Teriakku dengan nada yang tinggi. “Kamu ga harus ngertiin aku, aku cuma butuh waktu untuk menenangkan fikiranku, aku bingung, aku ga tau harus kaya gimana ke kamu, ke tugas aku.” Suaranya membalas teriakanku. “lalu apa? Aku ga cukup buat nenangin fikiran kamu? Aku malah bikin otak kamu semakin penuh dan meledak? Aku nyusahin kamu gitu? Terus untuk apa aku jadi pacar kamu?” amarahku semakin memuncak. “Aku ga ngerti maksud kamu apa. Aku cuma ingin sendiri, kita putus bukan berarti kita juga putus komunikasi kan? Kamu tetap bisa menghubungi aku, atau sebaliknya.” Dengan nada suara yang selalu berhasil membuatku luluh. “iya, maaf aku emang ga pernah bisa ngertiin kamu. Sori, aku juga ga bisa. Bye!”

Aku terbangun dari mimpi burukku yang akhir – akhir ini selalu mengganggu tidur nyenyak ku. Kejadian ini selalu teringat. Mimpi buruk yang sebenarnya telah setahun berlalu. Ya, mimpi ini adalah kejadian masa laluku yang selalu ingin ku hapus dari ingatanku. Kadang aku berfikir, andai saja aku bisa meminjam alat penghapus ingatan dalam film MIB, mungkin malam – malamku akan kembali indah dan aku bisa menemukan lelaki yang bisa menghiasi hari – hariku dengan cinta. Tak seperti saat ini. Ya, hanya harapan kosong yang entah kapan akan menjadi nyata.

Hujan! Langkahku terhenti di lobi sebuah pusat perbelanjaan sekitar kompleks rumahku. Sore itu aku bermaksud membeli beberapa cemilan, persediaan makanan kecil karena aku baru membeli beberapa kaset film yang terlihat seru. Ya beginilah malam minggu seorang jomblo. Hanya dengan beberapa makanan ringan, sebotol soft drink, dan tentu tontonan menarik. Sedihnya, akhir minggu ini keluargaku ikut ayah ke puncak, acara kantor. Karena setiap keluarga hanya boleh membawa tiga orang anggota keluarga, jadi hanya adikku yang ikut. Aku, aku hanya tinggal di rumah bersama beberapa kaset film ini.

Hujan semakin deras. Sepertinya tidak mungkin aku berlari hingga rumah karena memang jaraknya yang cukup jauh. Tapi ini sudah semakin sore. Aku juga tidak melihat taksi sedari tadi. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu sembari duduk di tangga lobi. Belum aku terduduk tiba – tiba ada seseorang menyodorkan payung untukku. Kaget, aku menoleh dan aku lebih terkejut ketika mengetahui si pemberi payung tersebut. “payung atau secangkir kopi?” tanya nya dengan senyum yang tulus. Masih kaget, aku pun menjawab dengan gelagapan “elo? gue... oke deh kopi lebih seru.”

Aku dan dia yang masih belum ku tau siapa namanya menuju coffeshop di dekat supermarket, mencari tempat duduk yang nyaman dan melihat – lihat daftar menu yang disodorkan weathrees saat kami tiba. “silakan, pesan apa?” tanya seorang pelayan dengan ramah. “chocolatte cream with granulle.” Jawab kami serempak. Pelayan itupun tersenyum melihat kami konyol, dan pergi mambawa catatan pesanan kami. Aneh, jarang ada orang yang memesan minuman seperti yang ku pesan tadi, karena memang tidak ada di daftar menu. Lalu, kenapa dia tau? Kenapa dia juga memesan jenis kopi yang sama denganku? Atau jangan – jangan dia mengenalku? Siapa dia sebenarnya?

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar